Minggu, 03 Januari 2016

KMB I SISTEM RESPIRASI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ASMA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang 
Penyakit asma berasal dari kata "asthma" dari bahasa Yunani yang berarti "sukar bernafas". Menurut Scadding dan Godfrey, asma merupakan penyakit yang ditandai dengan variasi luas dalam waktu yang pendek terhambatnya aliran udara dalam saluran nafas paru yang bermanifestasi sebagai serangan batuk berulang atau mengi (bengek/w/zeez/ng) dan sesak nafas biasanya terjadi di malam hari.

Penyakit asma merupakan penyakit lima besar penyebab kematian di dunia yang bervariasi antara 5-30% (berkisar 17,4%). Di Indonesia prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan 2-5 % penduduk Indonesia menderita asma. Hasil penelitian International Study on Asthma and Allergies in Childhood menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi penyakit asma meningkat dari 4,2% pada tahun 1995 menjadi 5,4% pada tahun 2003. DKI Jakarta memiliki prevalensi asma yang lebih besar yaitu 7,5% pada tahun 2007.

Penyakit asma berasal dari keturunan sebesar 30 % dan 70 % disebabkan oleh berbagai faktor lainnya. Departemen Kesehatan memperkirakan penyakit asma termasuk 10 besar penyebab kesakitan dan kematian di RS dan diperkirakan 10% dari 25 juta penduduk Indonesia menderita asma.8 Angka kejadian asma pada anak dan bayi sekitar 10-85% dan lebih tinggi dibandingkan oleh orang dewasa(10-45%). Prevalensi Penyakit Asma menunjukkan prevalensi penyakit asma di Indonesia sebesar 3,32%. Prevalensi tertinggi penyakit asma adalah provinsi Gorontalo (7,23%) dan terendah adalah NAD (Aceh) sebesar 0,09%. Sedangkan prevalensi asma di DKI sebesar 2,94%

Berdasarkan data tersebut perawat dituntut untuk bekerja secara teliti dan profesional dengan memperhatikan peran dan fungsi perawat itu sendiri. Dimana peran dan fungsi perawat adalah promotif (perawat mampu memberikan pendidikan kesehatan pada ibu paska partum sectio caesarea dengan indikasi letak sungsang tentang ASI eksklusif dan alat kontrasepsi), preventif (peran perawat disini mampu melakukan tindakan yang bisa mencegah terjadinya masalah baru misalnya infeksi), kuratif (ditahap ini perawat mampu memberikan pelayanan keperawatan dengan berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk memberikan pengobatan untuk mengurangi nyeri, antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka operasi), rehabilitatif (perawat mampu memandirikan klien sehingga klien dapat pulih dan mampu beraktivitas seperti sebelum dirawat di rumah sakit).

B.     Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas makalah dan seminar dari mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah I Respirasi yang diberikan.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian pada klien gangguan pernafasan Asma
b.      Mahasiswa mampu merumuskan/menentukan diagnosa pada klien gangguan pernafasan Asma
c.       Mahasiswa mampu menyusun rencana keperawatan pada klien gangguan pernafasan Asma
d.      Mahasiswa dapat melaksanakan tindakan asuhan keperawatan pada klien gangguan pernafasan Asma
e.       Mahasiswa mampu melaksanakan evaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah disusun pada klien gangguan pernafasan Asma

C.    Ruang Lingkup
Sesuai dengan waktu  dan materi yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan tugas yang diberikan, maka dalam hal ini kelompok membatasi lingkup pembahasan pada kasus saja yaitu Asuhan Keperawatan pada Asma



D.    Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan sistem kepustakaan yaitu dengan membaca, mempelajari, memahami buku, dan sumber lain untuk mendapatkan hasil materi tentang Asuhan Keperawatan pada Asma.

E.     Sistematika Penulisan
Penulis membuat sistematika penulisan dengan cara membaginya kedalam 3 BAB dimana masing–masing mempunyai kaitan satu sama lain secara sistematika yaitu sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN yang terdiri dari:latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORITIS yang terdiri dari:
BAB III PENUTUP yang terdiri dari:kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA





BAB II
TINJAUN TEORITIS

A.    Pengertian
Asma merupakan gangguan radang kronik saluran napas. Saluran napas yang mengalami radang kronik bersifat hiperresponsif sehingga apabila terangsang oleh factor risiko tertentu, jalan napas menjadi tersumbat dan aliran udara terhambat karena konstriksi bronkus, sumbatan mukus, dan meningkatnya proses radang (Almazini, 2012)

Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan, penyempitan ini bersifat sementara. Asma dapat terjadi pada siapa saja dan dapat timbul disegala usia, tetapi umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia di bawah 5 tahun dan orang dewasa pada usia sekitar 30 tahunan (Saheb, 2011).

Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperresponsivitas saluran napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk terutama malam hari dan atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi saluran napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan (Boushey, 2005; Bousquet, 2008)

Istilah asma berasal dari kata Yunani yang artinya “terengah-engah” dan berarti serangan nafas pendek (Price, 1995 cit Purnomo 2008). Nelson (1996) dalam Purnomo (2008) mendefinisikan asma sebagai kumpulan tanda dan gejala wheezing (mengi) dan atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut; timbul secara episodik dan atau kronik, cenderung pada malam hari/dini hari (nocturnal), musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik dan bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan penyumbatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien/keluarga, sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan

Batasan asma yang lengkap yang dikeluarkan oleh Global Initiative for Asthma (GINA) (2006) didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan mengi berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan nafas yang luas namun bervariasi, yang sebagian bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan, inflamasi ini juga berhubungan dengan hiperreaktivitas jalan nafas terhadap berbagai rangsangan.

Asma adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh keadaan saluran nafas yang sangat peka terhadap berbagai rangsangan, baik dari dalam maupun luar tubuh. Akibat dari kepekaan yang berlebihan ini terjadilah penyempitan saluran nafas secara menyeluruh (Abidin, 2002).

A.    Patofisiologi
1.      Etiologi
Penderita asma memiliki jalan nafas yang hiper-responsif dan iritan yang tidak dapat mempengaruhi individu yang sehat dapat mencetusakan serangan asma atau memperburuk gejala, misalnya asap rokok dan uap dari pembuangan. Olaraga dan inhalasi udara dingin sering mencetuskan mengi pada penderita asma, kemungkinan melaluin pengeringan dan pendingin epitel bronkus. Keadaan tersebut sering teradi pada anak-anak. Sters emosional juga dapat menginduksi serangan asma. Infeksi virus tertentu (rhinovirus, parainfluenza, virus sinsisial resporatori) juga berhubungungan dengan serangan asma. Saat ini juga dipercaya bahawa terdapat komponen genetik untuk asma.

Banyak sekali penyebab yang telah diakitkan dengan asma, tetapi suatu reaksi alergis terhadap protein protein asing tampaknya yang paling utama. Bahan-bahan ini sangat banyak tersebar dialam. Serbuk sari dari rereumputan merupakan penyebab yang biasa bagi banyak orang, dan sekali kepekaan terhadap sejenis tumbuhan sudah terjadi maka biasanya hal itu kan terus bertahan. Lain orang peka terhadap sebuk sari bunga-bunga. Banyak energi yang dihasilkan sebuk-serbuk sari tertentu yang bisa menjadi pencetus serangan pada orang-orang menderita “atopik” (alergi) tertentu.

Zat-zat protein tertentu dalam makana, bahakan susu, relatif menjadi aleregen yang lazim. Kepekaan terhadap obat-obatan bisa mendorong serangan pada mereka yang peka sedangkan aspirin bisa menjadi penyebab pada sebagian orang lain. Debu didalam rumah telah dikenal sebagai penyebab penting bagi banyak oranng. Debu dalam rumah mengandung tuma, suatu jasad renik yang mebentuk suatu bagian integral dari debu rumah, tampaknya menjadi biang keladi. Kapuk, kulit dan perlengkapan tempat tidur lainnya bisa menjadi penyebab.
Gerak badan sering bisa mempengaruhi suatu serangan pada sebagian orang yang peka. Serangan mungkin tidak timbul sampai gerak badan selesai, barangkali setelah beberapa menit kemudian. Namun dewasa ini pencegahan atas serangan akibat keadaan yang telah diketahui menyebabkan serangan sudah dapat dilakukan.

2.      Perjalanan penyakit
Pada penyakit asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan misalnya stres, udara dingin, latihan dan faktor-faktor lain. Serangan asma merupakan akibat adanya reaksi antigen antibodi yang menyebabkan dilepaskannya mediator-mediator kimia.Antibodi yang dihasilkan (IgE) menyerang sel-sel mast dalam paru.Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi yang menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (mediator) seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin serta anafilaksis dan substansi yang bereaksi lambat (SRS-A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan nafas yang menyebabkan tiga reaksi utama yaitu:
a.       Konstriksi otot-otot polos baik saluran nafas yang besar maupun saluran nafas yang kecil yang menimbulkan bronkospasme.
b.      Peningkatan permeabilitas kapiler yang berperan dalam terjadinya edema mukosa yang menambah sempitnya saluran nafas lebih lanjut.
c.       Peningkatan sekresi kelenjar mukosa dan peningkatan produksi mukus.

Asma bronchial adalah obstruksi jalan nafas difusi reversible obstruksi disebabkan oleh hal-hal seperti : kontraksi otot yang mengelilingi bronki yang menyebabkan penyempitan jalan nafas, pembengkakan membran yang melapisi bronki dan kelenjar mukosa membesar, sputum yang kental banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara yang terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini tidak diketahui tetapi ada yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem imunologis dan sistem saraf otonom.

Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronchial diatur oleh influs saraf vegal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau non alergi, ketika ujung saraf pada ujung saraf pada jalan nafas dirangsang oleh faktor-faktor seperti infeksi, latihan, daging, merokok, emosi dan polutan, jumlah asetilkolon yang dilepaskan meningkat menyebabkan berkonstruksi juga merangsang, pembentukan mediator kimiawi.

Selain itu, reseptor α dan β adrenerik dari sistem saraf simpatik terletak pada bronki ketika reseptor α adrenerik dirangsang, bronkokontriksi dan bronkodilatasi terjadi ketika reseptor β adrenergik dirangsang. Keseimbangan antara reseptor α dan α adrenergic dikendalikan terutama oleh siklik adenosine monofosfat (cAMP) stikulasi reseptor α mengakibatkan penurunan cAMP yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokonstriksi stimulasi reseptor β mengakibatkan peningkatan cAMP, yang menghambat pelepasan mediator kimiawi yang menyebabkan bronkodilatasi. Teori yang diajukan adalah bahwa penyekatan β adrenergik terjadi pada individu dengan asma akibatnya, asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator otot kolus. (Smeltzer, Suzanne C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, hal 611.)

Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu alergi dan psikologis, kedua faktor tersebut dapat meningkatkan terjadinya kontraksi otot-otot polos, meningkatnya sekret abnormal mukus pada bronkiolus dan adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya produksi mukus jalan nafas, sehingga terjadi penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan udara di terminal oleh berbagai macam sebab maka akan menimbulkan gangguan seperti gangguan ventilasi (hipoventilasi), distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru, gangguan difusi gas di tingkat alveoli.
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara.

Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.

Pada asma , diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru.

3.      Manifestasi
Secara umum gejala penyakit asma adalah sesak napas, batuk berdahak, dan suara napas yang berbunyi dimana serinya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu subuh, hal ini dikarenakan pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika pagi hari.
Penderita asma akan mengeluhkan sesak napas karena udara pada waktu bernapas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran napas yang sempit hal ini juga yang menyebabkan timbulnya bunyi pada saat bernapas. Pada penderita asma, penyempitan saluran napas yang terjadi dapat berupa pegerutan dan tertutupnya saluran oleh dahak yang diproduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon untuk mengeluarkan dahak tersebut.
Salah satu ciri asma adalah hilangnya keluhan diluar serangan. Artinya, pada saat serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk, sesak napas, hebat bahkan sampai tercekik) tetapi diluar serangan penderita sehat-sehat saja. Inilah salah satu yang membedakannya dengan penyakit lain.

A.           Komplikasi
Komplikasi asma apabila dibiarkan secara terus-menerus dapat meningkatkan mordibitas dan mortalitas. Sebaiknya penyakit asma dicegah jangan sampai mengalami komplikasi asma. Penyakit asma yang berkepanjangan dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi penyakit lainnya. Studi epidemiologi menunjukkan asma underdiagnosed di seluruh dunia, disebabkan berbagai hal antara lain gambaran klinis yang tidak khas dan beratnya penyakit yang sangat bervariasi, serta gejala yang bersifat episodik sehingga penderita tidak merasa perlu ke dokter.
Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabiliti yang berkaitan dengan cuaca. Anamnesis yang baik cukup untuk menegakkan diagnosis, ditambah dengan pemeriksaan jasmani dan pengukuran faal paru terutama reversibiliti kelainan faal paru, akan lebih meningkatkan nilai diagnostik.
Berbagai komplikasi komplikasi asma yang dapat terjadi pada penderita penyakit asma adalah :
1.      Komplikasi asma Pneumothoraks
Pneumothoraks adalah keadaan adanya udara di dalam rongga pleura yang dicurigai bila terdapat benturan atau tusukan dada. Keadaan ini dapat menyebabkan kolaps paru yang lebih lanjut lagi dapat menyebabkan kegagalan napas.
2.      Komplikasi asma Pneumomediastinum
Pneumomediastinum dari bahasa Yunani pneuma “udara”, juga dikenal sebagai emfisema mediastinum adalah suatu kondisi dimana udara hadir di mediastinum. Kondisi ini dapat disebabkan oleh trauma fisik atau situasi lain yang mengarah ke udara keluar dari paru-paru, saluran udara atau usus ke dalam rongga dada.
3.      Komplikasi asma Atelektasis
Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau akibat pernafasan yang sangat dangkal.
4.      Komplikasi asma Aspergilosis
Aspergilosis merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh jamur dan tersifat oleh adanya gangguan pernapasan yang berat. Penyakit ini juga dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lainnya, misalnya pada otak dan mata. Istilah Aspergilosis dipakai untuk menunjukkan adanya infeksi Aspergillus sp.
5.      Gagal napas
Gagal napas dapat tejadi bila pertukaran oksigen terhadap karbodioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen dan pembentukan karbondioksida dalam sel-sel tubuh.
6.      Bronkhitis
Bronkhitis atau radang paru-paru adalah kondisi di mana lapisan bagian dalam dari saluran pernapasan di paru-paru yang kecil (bronkhiolis) mengalami bengkak. Selain bengkak juga terjadi peningkatan produksi lendir (dahak). Akibatnya penderita merasa perlu batuk berulang-ulang dalam upaya mengeluarkan lendir yang berlebihan, atau merasa sulit bernapas karena sebagian saluran udara menjadi sempit oleh adanya lendir.

B.     Tingkatan pada penderita asma
Ada beberapa tingkatan penderita asma, yaitu :
1.      Tingkat I
a.       Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.
b.      Timbul bila ada faktor pencetus baik di dapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium.
2.      Tingkat II
a.       Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
b.      Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan.
3.      Tingkat III
a.       Tanpa keluhan
a.       Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstrusi jalan nafas.
b.      Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali.
4.      Tingkat IV
a.       Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing.
b.      Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas.
5.      Tingkat V
Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refraktor sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai.
Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel. Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti : kontraksi otot-otot pernafasa, sianosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih dan takikardi.

C.    Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
a.       Aktivitas/istirahat
Gejala :Pada klien dengan Asma gejala yang dapat ditimbulkan antara lain keletihan, kelelahan, malaise, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit berafas, ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi tinggi, dispnoe pada saat istirahat atau respon terhadap aktivatas/latihan.
Tanda :Tanda-tandanya antara lain keletahan, gelisah, insomnia, kelemahan umum/kehilangan massa otot.
b.      Sirkulasi
Gejala : Gejala yang ditimbulkan antara lain pembengkakan pada ekstremitas bawah.
Tanda : Tanda-tandanya antara lain peningkatan TD, peningakatan frekuensi jantung/takikardi berat,disritmia,distensi vena leher,odema dependan,tidak berhubungan dangan penyakit jantung, bunnyi jantung redup (berkaitan dengan peningkatan diameter AP dada), warna kulit/membran mukosa normal/abu-abu(sianosis), kaku tubuh,sianosis perifer,pucat dapat menunjukkan anemia.
c.       Makanan/cairan
Gejala : mual,muntah,nafsu makan buruk/anoreksia,kemampuan untuk makan menurun karena distress pernafasan, penurunan BB menetap (emfisema), peningkatan BB menunjukan edema(bronkitis).
Tanda : turgor kulit buruk, adema dependen, berkeringat.
d.      Pernafasan
Gejala : nafas pendek,dispnoe, dada terasa tertekan,sesak nafas berulang,riwayat pneumonia berulang,terpajan polusi atau debu/asap, faktor keluarga/keturunan.
Tanda :pernafasan cepat/lambat, penggunaan otot bantu pernafasan, nafas bibir, barrel chest, gerakan diafragma minimal, bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi, crackles atau ronchi, hiperesonan atau pekak pada paru, sianosis bibir dan pada dasar kuku.
e.       Higiene
Gejala : Penurunan kemampuan beraktivitas,
Tanda : kebersihan buruk, bau badan.
f.       Keamanan
Gejala :riwayat reaksi alergi / sensitif terhadap zat/faktor lingkungan, adanya infeksi, kemerahan/berkeringat.
g.      Seksualitass
Gejala : Penurunan libido
h.      Interaksi sosial
Gejala :hubungan ketergantungan , kurang sistem pendukung, penyakit lama/ketidkmampuan membaik.
Tanda :Ketidakmampuan mempertahankan suara, keterbatasan mobilitas fisik, kelainan hubungan dengan anggota keluarga lain (Doenges, Marilynn. 2000:152).

2.      Diagnosa keperawatan
a.       Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret
b.      Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan kemampuan bernapas
c.       Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2,
d.       Kurang pengetahuan berhubungan dengan regumen pengobatan (Doenges,2003)

3.      Intervensi
a.       Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret.
1)      Tujuan: jalan nafas kembali efektif
2)      Kriteria hasil: dapat mendemontrasikan batuk efektif dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan secret
3)      Intervensi
a)      Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, mis; mengi, krekels, ronki.
R: beberapa derajat spasme bronkus terjadi sumbatan di jalan nafas
b)      Kaji/pantau frekuensi pernafasan.
R: takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat di temukan pada penerimaan atau selama stress
c)      Kaji pasien untuk posisi yang nyaman mis : peninggian kepala tempat tidur, duduk pada sandaran tempat tidur.
R: peninggian kepal memudahkan untuk bernafas
d)     Dorong/bantu latihan nafas abdomen/bibir
R: memberikan cara kepada pasien untk memgontrol dan mengatasi dispnea
e)      Observasi karakteristik batuk mis : menetap, batuk pendek, basah
R; batuk pendek, basah biasanya sekret ikut keluar bersama batuk
f)       Lakukan tindakan suction
R: untuk mengangkat ssekret dari jalan pernafasan
g)      Koaborasi dengan doter
R: untuk pemberian obat


b.      Ketidakefektifan pola napas b/d penurunan kemampuan bernapas.
1)      Tujuan: pola nafas pasien menjadi efektif
2)      Kriteria hasil: · Dada tidak ada gangguan pengembangan · Pernafasan menjadi normal 18-24 x/menit
3)      Intervensi
a)      Monitor frekuensi, irama dan kedalaman pernafasan
R: dispnea dan terjadi peningkatan kerja nafas, kedalaman pernafasan bervariasai
b)      Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi
R: dududk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan
c)      Observasi pola batuk dan karakter sekret
R: menegtahui batuk keribg atau basah serta warna dari sekret itu
d)     Berikan pasien latihan nafas dalam atau batuk efektif
R: dapat meningkatkan sekret di mana ada gangguan ventilasi sitambah ketidaknyamana bernafas
e)      Berikan O2 tambahan
R: memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas
f)       Bantu fisioterapi dada
R: memudahkan upaya bernafas dalm dan meningkatkan draenase secret

c.       Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan retensi CO2
1)      Tujuan: pertukaran gas menjadi efektif
2)      Kriteria Hasil: Menunjukkan perbaikan vertilasi dan oksigen jaringan adekuat dalam rentang
3)      Intervensi:
a)      Kaji TTV
R: perubahan TD terjadi dengan beratnya hipoksemia dan asidosis
b)      Kaji tingkat kesadaran/ perubahan mental
R: hipoksemia sistemik dapat ditunjukkan pertama kali oleh gelisah dan peka rangsang
c)      Observasi adanya sianosis
R: Menunjukkanhipoksemia sistemik
d)     Tinggikan kepala tempat tidur sesui kebutuhan pasien
R: meningkatkan ekspansi dada serta membuat mudah bernafas
e)      Awasi BGA (blood gas analysis)
R: untuk mengetahui saturasi oksigen dalam darah
f)       Berikan O2 sesui indikasi
R: memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran gas

d.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan regumen pengobatan
1)      Tujuan: pasien paham kondisi, tindakan yang akan dilakukan
2)      Kriteria hasil: · Penampilan releks saat di lakukan pengobatan · Berpartisipasi dalam program pengobatan
3)      Intervensi
a)      Kaji TTV (Vital Signs)
R: untuk mengetahui TTV(Vital Signs) pasien
b)      Jelaskan kepada pasien sebelum melakukan tindakan
R: agar pasien tahu tentang tindakan yang dilakukan perawat kepadanya
c)      Berikan informasi dalam bentuk tertulis maupun verbal
R: kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk menangkap informasi
d)     Tekankan perlunya melanjutkan pengobatan selama periode
R: penghentian dini pengobatan dapat menyebabkan kekambuhan pada asma
e)      Tekankan pentingnya melanjutkan intervensi medi
R: dapat mencegah terjadi komplikasi (Doenges,2003)

4.      Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon, 1994, dalam Potter & Perry, 1997). Beberapa pedoman dalam pelaksanaan implementasi keperawatan (Kozier et al,. 1995) adalah sebagai berikut:
a.       Berdasarkan respons klien.
b.      Berdasarkan ilmu pengetahuan, hasil penelitian keperawatan, standar pelayanan professional, hukum dan kode etik keperawatan.
c.       Berdasarkan penggunaan sumber-sumber yang tersedia.
d.      Sesuai dengan tanggung jawab dan tanggung gugat profesi keperawatan.
e.       Mengerti dengan jelas pesanan-pesanan yang ada dalam rencana intervensi keperawatan.
f.       Harus dapat menciptakan adaptasi dengan klien sebagai individu dalam upaya meningkatkan peran serta untuk merawat diri sendiri (Self Care).
g.      Menekankan pada aspek pencegahan dan upaya peningkatan status kesehatan.
h.      Dapat menjaga rasa aman, harga diri dan melindungi klien.
i.        Memberikan pendidikan, dukungan dan bantuan.
j.        Bersifat holistik.
k.      Kerjasama dengan profesi lain.
l.        Melakukan dokumentasi

5.      Evaluasi
Menurut Craven dan Hirnle (2000) Evaluasi didefenisikan sebagai keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara dasar tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon prilaku klien yang tampil. Adapun ukuran pencapaian tujuan pada tahap evaluasi meliputi:
a.       Masalah teratasi; jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan.
b.      Masalah sebagian teratasi;jika klien menunjukkan perubahan sebahagian dari kriteria hasil yang telah ditetapkan.
c.       Masalah tidak teratasi; jika klien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan sama sekali yang sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan dan atau bahkan timbul masalah/ diagnosa keperawatan baru.




1 komentar:

  1. Las Vegas casinos list 2021 | BBS Jeon
    Casinos ranked #27 by number of visitors to Las 안전 사이트 Vegas (2021) 메이저벳 — This list is based on 3235 reviews from 바카라총판 real casino 해외 토토 사이트 visitors. 코인갤 Rating: 8.4/10 · ‎240 votes

    BalasHapus