Dokumentasi Keperawatan
Nursing Intervention Classification
AKADEMI KEPERAWATAN HARUM JAKARTA
2015
Kata
Pengantar
Segala
puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
Rahmat-Nya lah akhirnaya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ Dokumentasi Nursing Intervention Classification”. Penyusunan
makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas kelompok yang diberikan dosen mata
ajar Dokumentasi
Kami menyadari makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik-Nya, namun patut kiranya
kami menghaturkan rasa terimakasih kepada para pihak yang telah membantu guna
terselesaikannya makalah ini tanpa bermaksud melupakan kepada seluruh pihak
yang telah berjasa memberikan bantuannya, kelompok ucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Rusmawati
Sitorus, S.Pd.S.Kep.MA Selaku Direktur Akademi Keperawatan Harum Jakarta
dan selaku dosen mata ajar KMB 1 Pre Dan Post Operasi yang telah meluangkan
waktu, tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan
dalam rangka penyelesaian penyusunan makalah ini.
2. Bapak Ns. Ragil Supriono,M.kep Selaku Wali
Kelas Tingkat II Akademi Keperawatan Harum Jakarta.
3. Kedua orangtua kami yang telah membantu moril maupun materi, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini.
4.
Rekan-rekan
semua angkatan ke XVI Akademi
Keperawatan Harum Jakarta.
Semoga Tuhan memberkati dan melimpahkan
berkat dan Anugerah terhadap ketulusan kebaikan mereka, dan kami menyadari
dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kelompok mengharapkan kritik dan sarannya yang
bersifatnya membangun untuk perbaikan dimasa yang akan datang.
Jakarta, November 2015
BAB I
LATAR BELAKANG
A.
Latar Belakang
Keperawatan adalah
suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk
pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada
individu, keluarga dan masyarakat baik sakit maupun sehat secara berkualitas
(Kozier, 1995). Tenaga perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai
kontribusi besar bagi pelayanan
kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan.. Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan,
seorang perawat harus mampu melaksanakan asuhan keperawatan sesuai standar,
yaitu dari mulai pengkajian sampai dengan evaluasi dan yang sangat penting
adalah disertai dengan sistem pendokumentasian yang baik.
Dokumentasi
keperawatan adalah bagian yang penting dari dokumentasi klinis. Namun pada realitanya dilapangan, asuhan keperawatan
yang dilakukan masih bersifat manual dan konvensional, belum disertai dengan
sistem/perangkat tekhonolgi yang memadai. Contohnya dalam hal pendokumentasian
asuhan keperawatan masih manual, sehingga perawat mempunyai potensi yang besar
terhadap proses terjadinya kelalaian dalam praktek.
Perkembangan Sistem
Informasi Kesehatan yang kian hari kian meningkat secara tidak langsung
berdampak pula pada perkembangan sistem dokumentasi keperawatan, mulai dari
yang sederhana dengan pengelolaan manual hingga terkomputerisasi dengan
jaringan dalam suatu Rumah sakit besar. Hal ini tentu saja membutuhkan suatu
basis data yang lengkap, efektif dan efisien, dalam arti mampu menjangkau
bagian yang paling detil sekalipun. Selain itu juga harus dapat digunakan
atau dipahami oleh semua tenaga keperawatan dimanapun dan dari lulusan
manapun juga. Di beberapa negara maju sendiri saat ini sudah mulai
mengembangkan basis data keperawatan dengan mengacu pada pola diagnosa
keperawatan.
Dari hasil konferensi
NANDA ke 9 tahun 1990 cit Doenges 2000, istilah diagnosa keperawatan digunakan
sebagai verba dan nomina. Istilah Nomina dalam kaitan dengan karya NANDA, yaitu
sebuah label yang disetujui oleh NANDA yang mengidentifikasi masalah atau
kebutuhan pasien yang spesifik, merupakan masalah yang menggambarkan masalah
kesehatan yang dapat ditangani oleh perawat dapat berupa masalah fisik,
sosiologis dan psikologis.
Untuk memfasilitasi
penggunaan bahasa keperawatan dan rekam medik pasien terkomputerisasi yang
seragam, masing-masing diagnosis keperawatan terdiri dari hasil yang disarankan
yang berdasarkan pada riset yang dilakukan oleh IOWA Outcomes Project (Nursing
Outcomes Classification 1997). Hasil
yang disarankan ini sensitif terhadap kebutuhan perawat yaitu dapat
mempengaruhi asuhan keperawatan yang diberikan untuk suatu diagnosis
keperawatan yang diakui oleh NANDA. (Wilkinson, 2006)
B.
Tujuan
1.
Tujuan umum
Untuk
memenuhi tugas Dokumentasi Keperawatan yang diberikan oleh dosen mata ajar
2.
Tujuan Khusus
a.
Agar
mahasiswa memahami pengertian dari NIC
b.
Agar
C. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah
ini kami menggunakan system kepustakaan yaitu dengan membaca, mempelajari,
memahami buku dan sumber lain untuk mendapatkan hasil tentang Dokumentasi Keperawatan NIC
D.
Ruang
lingkup
Sesuai dengan materi
yang telah ditentukan, maka dalam hal ini kami membatasi ruang lingkup
bahasanya hanya pada materi Dokumentasi
Keperawatan NIC
E.
Sistematika
Penulisan
Adapun sistematika
penuliasan Makalah ini terdiri dari 3 Bab yaitu :
BAB I : pendahuluan
terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, ruang lingkup
dan sistematika penulisan.
BAB II: pembasan
terdiri dari pengertian, komponen-komponen, keuntungan dan kerugian.
BAB III: penutup terdiri dari kesimpulan
dan saran.
Daftar Pustaka
BAB II
TINJAUN
TEORI
A. Pengertian Dokumentasi Keperawatan
Potter
(2005) mendefenisikan dokumentasi sebagai segala sesuatu yang tercetak atau
tertulis yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang
berwenang . Dokumentasi
keperawatan juga merupakan salah satu bentuk upaya membina dan mempertahankan
akontabilitas perawat dan keperawatan (Webster New
World Dictionary dalam Marelli (1996). Pelaksanaan
dokumentasi proses keperawatan juga sebagai salah satu alat ukur untuk
mengetahui, memantau dan menyimpulkan suatu pelayanan asuhan keperawatan yang diselenggarakan di rumah
sakit (Fisbach, 1991).
B.
Tujuan
Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi
keperawatan yang lengkap adalah
prasyarat dalam melaksanakan perawatan yang baik dan untuk efesiensi
dari kerjasama dan komunikasi antar profesi kesehatan dalam pelayanan kesehatan
professional. Dokumentasi keperawatan yang lengkap dan akurat akan memudahkan
disiplin ilmu lain untuk menggunakan informasi di dalamnya. Dokumentasi
diperlukan untuk memudahkan alur dan koordinasi dalam perawatan pasien (Brunt/Serangan
et al. 1999 dalam Gapko dawn).
Dokumentasi
keperawatan yang akurat dan lengkap telah sesuatu yang penting ketika
berhadapan dengan pembayaran dan kwalitas pelayanan. Griffiths dan Hutchings (1999 dalam
Gapko dawn) menuliskan bahwa perawat
merasakan bahwa dokumentasi tertulis mereka tidak dihargai. termasuk
komunikasi verbal dengan profesi lain. karena komunikasi lisan yang tidak
tertulis pada dokumentasi juga tidak dibayar. Alasan yang lain terhadap pentingnya
dokumentasi ilmu perawatan yang akurat dan lengkap adalah berkaitan dengan
urusanpengadilan.
C. Prinsip-prinsip dokumentasi Keperawatan
Aspek-aspek keakuratan data, brevity (ringkas) dan
legibility (mudah dibaca). Hal yang pokok dalam prinsip-prinsip dokumentasi
adalah :
1. Dokumentasi harus dilakukan
segera setelah pengkajian pertama dilakukan, demikian juga pada setiap langkah
kegiatan keperawatan.
2. Bila memungkinkan, catat setiap
respon pasien/keluarganya tentang informasi / data yang penting tentang
keadaannya.
3. Pastikan kebenaran setiap data
data yang akan dicatat.
4. Data pasien harus objektif dan
bukan merupakan penafsiran perawat, dalam hal ini perawat mencatat apa yang
dilihat dari respon pasien pada saat merawat pasien mulai dari pengkajian
sampai evaluasi.
5. Dokumentasikan dengan baik
apabila terjadi hal-hal sebagai berikut : adanya perubahan kondisi atau
munculnya masalah baru, respon pasien terhadap bimbingan perawat.
6. Harus dihindari dokumentais
yang baku sebab sifat individu /Pasien adalah unik dan setiap pasien
mempunyai masalah yang berbeda.
7. Hindari penggunaan istilah
penulisan yang tidak jelas dari setiap catatan yang dicatat, harus disepakati
atas kebijaksanaan institut setempat
8. Data harus ditulis secara syah
dengan menggunakan tinta dan jangan menggunakan pinsil agar tidak mudah
dihapus.
9. Untuk merubah atau menutupi kesalahan apabila terjadi
salah tulis, coret dan diganti dengan yang benar kemudian ditanda tangani.
10. Untuk setiap kegiatan dokumentasi, cantumkan waktu
tanda tangan dan nama jelas penulis
11. Wajib membaca setiap tulisan dari
anggota lain kesehatan yang lain sebelum menulis data terakhir.
12. Dokumentasi harus dibuat dengan
tepat, jelas dan lengkap
D. Dokumentasi intervensi
Dokumentasi
intervensi merupakan catatan tentang tindakan yang diberikan oleh perawat.
Dokumentasi intervensi mencatat pelaksanaan rencana perawatan, pemenuhan
kriteria hasil dari tindakan dari tindakan perawatan mandiri, dan tindakan
kolaboratif.
1.
Tipe intervensi keperawatan
Menurut bleich dan
fischbach, tipe intervensi dibagi menjadi dua komponen yaitu:
a.
Intervensi perawatan teraupetik
Intervensi ini
memberikan pengobatan secara langsung pada masalah yang dialami pasien,
mencegah komplikasi, dan mempertahankan status kesehatan.
b.
Intervensi keperawatan surveilens
Intervensi ini
menyatakan tentang survei data dengan melihat kembali data umum dan membuktikan
kebenaran data.
2.
Metode pencatatan intervensi keperawatan
Beberapa pedoman yang
dipakai dalam pencatatan intervensi keperawatan:
a.
Gunakan deskripsi tindakan untuk
menentukan apa yang telah dikerjakan
b.
Identifikasi bahan dan alat yang
digunakan dalam bentuk yang tepat
c.
Berikan keamanan, kenyamanan, dan
perhatikan faktor lingkungan pasien dalam memberikan intervensi keperawatan
d.
Catat waktu dan orang yang bertanggung
jawab dalam memberikan intervensi
e.
Catat prosedur yang tepat
f.
Catat semua informasi tentang pasien
E.
Pengertian NIC (Nursing Intervention Classification)
NIC (Nursing
Intervention Classification ) adalah suatu daftar lis intervensi diagnosa
keperawatan yang menyeluruh dan dikelompokkan berdasarkan label yang mengurai
pada aktifitas yang dibagi menjadi 7 bagian dan 30 kelas. Sistim yang digunakan
dalam berbagai diagnosa keperawatan dan mengatur pelayanan kesehatan.NIC
digunakan perawat pada semua spesialis dan semua area keperawatan (McClokey and
Bulecheck, 1996).
Nursing Interventions
Classification (NIC) diperkenalkan untuk pertama kali pada tahun 1987 dan
menyusul Nursing Outcomes Classification (NOC) pada tahun 1991. Nursing Intervention
Classification digunakan disemua area keperawatan dan spesialis.Intervensi
keperawatan merupakan tindakan yang berdasarkan kondisi klinik dan pengetahuan
yang dilakukan perawat untuk membantu pasien mencapai hasil yang diharapkan. Perawat dapat memberikan alasan ilmiah
yang terbaru mengapa tindakan itu yang diberikan.Alasan ilmiah dapat merupakan
pengetahuan berdasarkan literature, hasil penelitian atau pengalaman praktik.
Rencana tindakan berupa: tindakan konseling atau psikoterapiutik, pendidikan
kesehatan, perawatan mandiri dan aktivitas hidup sehari-hari, terapi modalitas
keperawatan, perawatan berkelanjutan (continuity care), tindakan kolaborasi
(terapi somatic dan psikofarmaka).
The Nursing Interventions Classification (NIC) adalah standarisasi
intervensi intervensi yang dilakukan oleh perawat secara komprehensif ,
berdasarkan riset. NIC berguna untuk dokumentasi klinik, komunikasi lintas care
setting, data terintegrasi, riset yang efektif, pengukuran produktifitas,
evaluasi kompetensi, reimbursement, design kurikulum.
Nursing Interventions Classification (NIC) adalah komprehensive,
standardized language yang mendiskripsikan treatment yang dilakukan perawat
pada semua seting dan semua specialties. Nursing interventions diklasifikasikan
untuk memudahkan akses dan penggunaan. Setiap nursing intervention mempunyai
specific label dan definition serta activities untuk pencapaian intervensi.
F. Bagian dari NIC
Terdapat 542 intervensi di dalam NIC (edisi ke -5) dan terbagi ke dalam 7
domain yaitu : Physiological: Basic, Physiological: Complex, Behavioral,
Safety, Family, Health System, and Community. NIC dilakukan update setiap 4
tahun sekali.
Nursing Intervention adalah Setiap Treatment berdasarkan keputusan klinis
dan pengetahuan yang dilakukan oleh perawat untuk meningkatkan outcome dari
pasien / klien. Nursing intervention termasuk :
1. Direct care intervention : Treatmen yang dilakukan
melalui interaksi dengan pasien, Termasuk psikologikal dan fisiologikal nursing
action, “laying on hand” action dan beberapa yang lebih mendukung dan konseling
alamiah.
2. Indirect care intervention : Treatmen dilakukan tdk
langsung ke pasien, separuh dari pasien atau group pasien. Termasuk nursing
action yg bertujuan untuk memanajemen lingkungan perawatan pasien dan
interdisiplinary kolaborasi. Aksi tersebut mendukung efektivitas dari direct
care intervention.
3. Nurse-initiated treatment : Intervensi atas inisiasi
perawat sbg respon terhadap nursing diagnosis, aksi otonomi berdasarkan
rasional ilmiah yang diputuskan untuk memberikan benefit bagi pasien sesuai
dengan nursing diagnosis dan outcome yang direncanakan. Beberapa aksi termasuk
treatmen atas inisiasi “advance practical nurse”.
4. Physician-initiated treatment : Intervensi atas
inisiasi dokter dalam respon terhadap diagnosis medis tetapi dilakukan oleh
perawat dalam respon terhadap “doctor’sorder”. Perawat
juga dapat melakukan treatmen atas inisiasi provider lain seperti pharmasis,
respiratory therapists, atau physician assistants.
Nursing activities adalah : Perilaku khusus atau
action yang dilakukan oleh perawat untuk mengimplementasikan intervensi dan
yang membantu pasien / klien menuju outcome yang diinginkan.
G. NIC Component
1. Name or label (Nama Judul)
2. A definition (pengertian)
3. A set of activities the nurse
does to carry out the intervention (tindakan yang akan dilakukan oleh
perawat/intervensi)
H.
Keuntungan dan Kelebihan NIC
Bulecheck dan McClokey
(1996) menyatakan bahwa keuntungan NIC adalah sebagai berikut :
1.
Membantu menunjukkan aksi perawat dalam
sistem pelayanan kesehatan.
2.
Menstandarisasi dan mendefinisikan dasar
pengetahuan untuk kurikulum dan praktik keperawatan.
3.
Memudahkan memilih intervensi
keperawatan yang tepat.
4.
Memudahkan komunikasi tentang perawat
kepada perawat lain dan penyedia layanan kesehatan lain.
5.
Memperbolehkan peneliti untuk menguji
keefektifan dan biaya perawatan.
6.
Memudahkan pengajaran pengambilan keputusan
klinis bagi perawat baru.
7.
Membantu tenaga administrasi dalam
perencanaan staf dan peralatan yang dibutuhkan lebih efektif.
8.
Memudahkan perkembangan dan penggunaan
sistem informasi perawat.
9.
Mengkomunikasikan kealamiahan perawat
kepada publik.
Adapun
kelebihan NIC adalah :
1.
Komprehensif.
2.
Berdasarkan riset.
3.
Dikembangkan lebih didasarkan pada
praktek yang ada.
4.
Mempunyai kemudahan untuk menggunakan
struktur organisasi (Domain, kelas, intervensi, aktivitas).
5.
Bahasa jelas dan penuh arti klinik.
6.
Dikembangkan oleh tim riset yang besar
dan bermacam-macam tim.
7.
Menjadi dasar pengujian.
8.
Dapat diakses melalui beberapa publikasi
9.
Dapat dihubungkan Diagnosa Keperawatan
NANDA
10.
Dapat dikembangkan bersama NOC.
11.
Dapat diakui dan diterima secara
nasional. (Bulecheck dan McClokey, 1996).
I.
Mengaplikasikan Dokumentasi Keperawatan Berbasis
Nanda, Noc, Nic
Mengaplikasikan dokumentasi keperawatan berbasis NANDA,NOC, NIC pada
prinsipnya sama dengan melakukan dengan metode yang selama ini kita kenal. Yang
membedakan adalah kita menggunakan bahasa yang standar dalam menetapkan
diagnosis keperawatan, menggunakan bahasa yang standar dalam menentukan tujuan
dan kriteria hasil, kita menggunakan bahasa yang standar dalam menuliskan
intervensi dan implementasi, dan kita menggunakan bahasa yang standar dalam
melakukan evaluasi. Disamping itu kalimat yang kita gunakan bisa lebih simpel
karena bahasa yang standar dalam NANDA, NOC, NIC merupakan label atau semacam
koding seperti dalam penelitian kualitaitf sehingga dalam pelaksanaannya bisa lebih
efisien sumber daya dan waktu terutama bagi perawat di area klinis.
Hal yang membedakan bila kita menggunakan NANDA, NOC dan NIC dalam hal ini juga memudahkan perawat adalah tersedianya link /
taut yang merupakan berdasarkan evidence / penelitain sehingga suatu diagnosa
NANDA akan mempunyai link dengan NOC dan NIC sebagai suatu kesatuan yang saling
mengisi.
Tabel 5. NANDA, NOC, NIC
linkages
Nanda
|
NOC
|
NIC
|
||
Intervention mayor
|
Intervensi disarankan
|
Intervensi pilihan
|
||
Kurang Pengetahuan pengobatan
|
Pengetahuan pengobatan
|
1.
Teaching : pengobatan yang diresepkan
|
1.
Manajemen alergi
2.
Pemberian analgetik
3.
Manajemen keotherapi
4.
Manajemen hypoglikemi
5.
Manajemen imunisasi, vaksinasi
6.
Fasilitasi pembelajaran
7.
Peningkatan kesiapan belajar
8.
Manajemen medikasi
9.
AsistensiPatient- Controlled Analgesia (PCA)
10.
Teaching : individual
|
1.
Manajemen kosntipasi
2.
Manajemen nyeri
3.
Konseling prekonsepsi
4.
Prenatal car
5.
Ajarkan: proses penyakit
6.
Ajarkan: group
|
J.
Langkah - Langkah dalam
Mengaplikasikan NANDA, NOC, NIC dalam Dokumentasi
Keperawatan
1.
PENGKAJIAN
Dalam website NANDA-I tidak lagi merekomendasikan atau
tidak menyarankan hanya menggunakan toxonomy II frame work ( 13 domain )
sebagai alat untuk melakukan pengkajian pasien, akan tetapi penting untuk
menggabungkan multiple tool / alat pengkajian yang bisa digunakan secara aman
di praktek klinis, misalnya : pola fungsional Gordon, Nursing Outcome
Classification Clinical Indikator Level, dan tool pengkajian menggunakan doamin
yang sudah dilengkapi, dan sebagainya.
Ketidaktepatan pengkajian yang sering kita jumpai
adalah apabila kita melakukan pengkajian hanya menggunakan pengkajian dengan
pendekatan persystem. Pengkajian persystem lebih umum dilakukan oleh dokter
untuk melakukan pengkajian dan menemukan masalah kelainan pada sistem organ.
Ini berbeda dengan perawat, masalah / diagnosis keperawatan adalah berdasar
respon dari pasien sehingga bila kita hanya menggunakan pengkajian persistem
kita akan mengalami kesulitan untuk memunculkan diagnosis keperawatan dari pasien
yang kita kaji.
Pengkajian berdasarkan 11 Pola Fungsional gordon bisa
dilakukan link / taut dengan diagnosis keperawatan
2. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Diagnosis keperawatan NANDA-I merupakan bahasa standar
dalam merumuskan diagnosa, namun demikian bagaimana menggunakan diagnosa yang
tepat untuk suatu respon pasien memerlukan keahlian penilaian klinis. Sebagai
contoh berdasarkan pengkajian perawat ditemukan pasien maslah pernafasan
,mengalami sesak nafas, dalam NANDA-I nursing diagnosis untuk masalah sesak
nafas terdapat diagnosis diantaranya adalah : pola nafas tidak efektif,
bersihan jalan nafas tidak efektif, gangguan pertukaran gas. Atau masalah yang
terkait dengan aktifitas, mobilisasi di NANDA-I terdapat diagnosis Intoleransi
aktifitas, kerusakan meobilitas fisik, defisit perawatan diri.
Untuk bisa menentukan dengan stadar respon pasien dan
diagnosis keperawatan perlu adanya kesepahaman dalam melakukan penilaian
sehingga respon pasien yang muncul bisa di identifikasi masalah atau nursing
diagnosis secara tepat oleh perawat.
Dalam hal ini dibutuhkan kesepakatan minimal
kesepakatan lokal oleh komunitas perawat di rumah sakit untuk menentukan pada
kondisi atau respon seperti apa yang muncul pada pasien dapat digunakan untuk
memunculkan diagnosis keperawatan tertentu.
Sebagai contoh diagnosis Nyeri akut, dalam buku
NANDA-I terdapat batasan karakteristik / symptom untuk diagnosis ini antara
lain : perubahan tonus otot, perubahan nafsu makan, perubahan tekanan darah,
perubahan HR, perubahan RR, melaporkan dengan kode, berkeringat banyak,
perilaku distraksi, perilaku ekspresif, muka topeng, perilaku melindungi, fokus
menyempit, terobservasi adanya bukti nyeri, posisi menghindar nyeri, protektif
gesture, dilatasi pupil, berfokus pada diri sendiri, gangguan tidur, melaporkan
nyeri secara verbal.
Untuk menetapkan diagnosis nyeri akut bisa diangkat
perlu disepakati batasan karakteristik mana yang harus muncul dan batasan
karakteristik mana yang merupakan data tambahan untuk bisa memunculkan
diagnosis nyeri akut, hal-hal tersebut dapat disepakati oleh komunitas
profesional perawat di rumah sakit sebagai standar lokal. Demikian pula untuk
diagnosis keperawatan yang lain misalnya kapan kita menetapkan diagnosis
keperawatan pada pasien adalah intoleransi aktivitas dan pada kondisi batasan
karakteristik seperti apa kita mengangkat diagnosis kerusakan mobilitas fisik.
Saat ini sudah banyak buku mengulas tentang diagnosis
NANDA-I yang link dengan NOC dan NIC dan didalamnya mengulas tentang saran
penggunaan untuk masing- masing diagnosis, hal tersebut dapat dijadikan rujukan
untuk membantu perawat memenculkan diagnosis keperawatan secara tepat.
3. RENCANA KEPERAWATAN
Pada tahap rencana ini terdapat dua garis besar
peerncanaan, yaitu perencanaan tujuan ( out come ) dan perencanaan tindakan (
intervensi ). Bila kita menggunakan seting NANDA, NOC, dan NIC maka pada tahap
perencanaan ini kita menggunakan NOC untuk perencanaan tujuan (outcome) dan
perencanaan tindakan (intervensi) menggunan NIC.
Bila kita lihat di beberapa literatur terdapat
beberapa model aplikasi yang digunakan, dibeberapa literatur dicontohkan
penggunaan NOC dengan skala untuk rencana tujuan (outcome) dan penggunaan label
NIC untuk intervensi. Beberapa literatur menggunakan gabungan antara otucome
menggunakan NOC tanpa skala dan menggunakan kriteria hasil serta intervensi
menggunakan label NIC digabung dengan intervensi keperawatan biasa.
Penulisan tujuan menggunakan NOC dan NIC secara manual
dapat dilakukan seperti contoh berikut :
Dalam waktu 5 x 24 jam pasien mempunyai pengetahuan
tentang pengobatan dengan indikator : (ket : lihat NOC)
a. Dapat menyebutkan nama obat skala 5 (luas)
b. Mendeskripsikan efek samping obat skala 4
(substansial)
Setelah dilakukan tindakan : ( ket : lihat NIC )
a. Teaching : pengobatan yang diresepkan
b. Fasilitasi pembelajaran
c. Peningkatan kesiapan belajar
d. Manajemen medikasi
4. IMPLEMENTASI
Mendokumentasika implementasi keperawatan menggunakan
NIC, pada penggunaan NIC untuk impelementasi ditulis aktivitas pada label NIC
atau dapat juga dilitulis label NIC kemudian diberi keterangan tambahan. Lihat
pada tabel NIC
5. EVALUASI
Evaluasi menggunakan skala yang di rating setiap hari
dan dilihat apakah bisa mencapai target yang direncanakan atau tidak. Kita akan
mengevaluasi ulang pasien pada interval yang ditentukan. Dengan penggunaan
skala pengukuran untuk menilai pasien, kita dapat menentukan jika pasien sedang
mengalami kemajuan ke arah outcome dan dapat membuat perubahan rencana
keperawatan yang sesuai.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Proses keperawatan merupakan metode pengorganisasian yang sistematis dalam
melakukan asuhan keperawatan pada individu, kelompok dan masyarakat yang
berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respon pasien terhadap penyakitnya
dan untuk menghindari kesalahan terhadap tindakan yang dilakukan oleh perawat
kepada pasien maka dibutuhkan pendokumentasian terhadap proses keperawatan
tersebut yang juga berfungsi sebagai mekanisme pertanggung gugatan bagi perawat
terhadap semua tindakan yang telah ia lakukan.
Dokumentasi keperawatan itu sendiri merupakan bukti pencatatan dan
pelaporan yang dimiliki perawat dalam melakukan catatan perawatan yang berguna
untuk kepentingan klien, perawat, dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan
kesehatan.
B. Saran
Sebaiknya
konsep yang telah diketahui oleh seorang perawat dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-harinya. Untuk menambah wawasan pembaca dapat melihat
reverensi yang lain.
Daftar Pustaka
Jasun. 2006. Aplikasi Proses
Keperawatan dengan Pendekatan, Nanda, NIC NOC
dalam
Sistem Informasi Management Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar